Selasa, 25 Maret 2014
07.23 | Edit Entri
BIOLOGI KONSERVASI
“Jenis-Jenis Ekosistem yang
Terdapat di Sulawesi Tenggara”

KELOMPOK 5
WA ODE SUSIANTI (A1C212014)
ALJIZAT IRIANTO (A1C212034)
NURSIA (A1C212017)
SITTI FATIMAH (A1C212029)
WA ODE SUSIANTI (A1C212014)
ALJIZAT IRIANTO (A1C212034)
NURSIA (A1C212017)
SITTI FATIMAH (A1C212029)
PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2014
Jenis-Jenis
Ekosistem yang Terdapat di Sulawesi Tenggara
Ekosistem adalah suatu proses yang terbentuk
karena adanya hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya,
jadi kita tahu bahwa ada komponen biotik (hidup) dan juga komponen
abiotik(tidak hidup) yang terlibat dalam suatu ekosistem ini, kedua komponen
ini tentunya saling mempengaruhi, contohnya saja hubungan hewan dengan air. Interaksi antara makhluk hidup dan tidak hidup ini akan
membentuk suatu kesatuan dan keteraturan. Setiap komponen yang terlibat
memiliki fungsinya masing-masing, dan selama tidak ada fungsi yang terngganggu
maka keseimbangan dari ekosistem ini akan terus terjaga.
Secara
garis besar, ekosistem dibagi menjadi dua yaitu ekosistem darat (terestial) dan
ekosistem perairan (akuatik). Beberapa ekosistem yang terdapat di Sulawesi
Tenggara mulai dari pegunungan sampai di laut dalam, sebagai berikut ;
1. EKOSISTEM
DARAT (TERESTIAL)
Ekosistem darat ialah
ekosistem yang lingkungan fisiknya berupa daratan. Berdasarkan letak
geografisnya (garis lintangnya), ekosistem darat yaitu sebagai berikut :
a) Ekosistem
Hutan Pegunungan
Jenis
hutan pegunungan yang terdapat
di Sulawesi Tenggara ada dua, yaitu hutan pegunungan bawah, yaitu berada pada
ketinggian berkisar 1000–1500 m dpl. Semakin ke atas vegetasinya semakin
rendah, jika tumbuh semakin tinggi maka diameternya semakin kecil. Vegetasi
pada punggung dan lereng gunung umumnya berupa pohon pendek atau semak semak.
Vegetasinya meliputi tanaman anggrek, paku-pakuan, dan lumut. Hutan pegunungan
atas berada pada ketinggian berkisar 1500-3300 m dpl. Hutannya lebat dengan
ketinggian pohonnya mencapai 25 m, variasi vegetasinya lebih sedikit dibandingkan
dengan hutan pegunungan di bawahnya.
b)
Ekosistem Padang Rumput (savana)
Ekosistem padang rumput didominasi oleh berbagai
rumput dan jenis tumbuhan semak dan perdu. Padang rumput ini menempati
kawasan yang sangat luas dan biasanya bersinambungan dengan savanna.
Ekositem
savanna di Sulawesi Tenggara dapat ditemukan di Taman Nasional Rawa Aopa
Watumohai.Tipe ekosistem savana terletak
di belakang vegetasi mangrove dengan luas lebih kurang 30.000 h.Jenis-jenis
yang dominan pada tipe ekosistem ini adalah alang-alang (Imperata cylindrical),
totele (Cyperus rotundus), tio-tio
(Fymbristillis ferrugenea), kuralangga (Axonopus
compressus), gelagah (Saccharum
spp.),Ekosistem savana ini memiliki ciri khas dan keunikan karena merupakan
asosiasi antara padang rumput dengan tumbuhan agel (corypha utan), lontar (Borassus
flabelifer), dan bambu duri (Bambusa
spinosa) serta semak belukar dan kelompok-kelompok hutan yang tumbuh
disepanjang a;ur-alur sungai yang mengalir di padang savanna.Tipe ekosistem ini
menjadi tempat yang baik bagi satwa pemakan rumput seperti rusa (Cervus timorensis) dan anoa dataran
rendah (Anoa depressicornis).
c) Ekosistem
Mangrove
Mangrove adalah vegetasi hutan yang tumbuh dan
dipengaruhi oleh pasang surut air laut, sehingga lantainya selalu tergenang
air. Tumbuhan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri
tumbuhan yang hidup di darat dan di laut.
Upaya rehabilitasi
sebaiknya melibatkan seluruh anggota kelompok dengan menggalakan penanaman
bibit mangrove. Tiap anggota masyarakat dipercayakan untuk menyulam tiap bibit
mangrove yang kebetulan rusak atau tercabut oleh aktivitas arus dan gelombang.
Untuk mengontrol kelangsungan hidup tiap bibit dan anakan mangrove, sebaiknya
dilakukan pengontrolan setiap 3-4 hari sekali sampai pada saat bibit mangrove
yang ditanam berusia 3 – 5 bulan. Selanjutnya dilakukan pengontrolan seminggi
sekali selama 10 -12 bulan. Setelah diatas satu tahun dapat dilakukan
pengontrolan selama 1 – 2 kali sebulan.
Pemeliharaan
mangrove adalah hal penting yang perlu dilakukan untuk menjaga agar mangrove
tetap hidup dan bertahan dengan baik. Komplesitasnya kondisi fisik dan ekologis
lingkungan serta kadang adanya hama dan gangguan lain membuat mangrove kadang
mengalami kematian walaupun umur mangrove telah berusia diatas 8 – 12 bulan, namun jika
dilakukan pengontrolan yang rutin maka akan dapat meminimalisasi kegagalan yang
ada.
d) Ekosistem Hutan Pantai
Hutan pantai terdapat di daerah-daerah kering tepi
pantai dengan kondisi tanah berpasir atau berbatu dan terletak di atas garis
pasang tertinggi. Di daerah seperti itu pada umumnya jarang tergenang oleh air
laut, namun sering terjadi atau terkena angin kencang dengan embusan garam.
Spesies-spesies pohon yang pada umumnya terdapat
dalam ekosistem hutan pantai antara lain Barringtonia asiatica, Terminalia catappa, Calophyllum
inophyllum, Hibiscus tiliaceus, Casuarina equisetifolia, dan Pisonia
grandis. Selain spesies-spesies pohon tersebut, temyata kadang-kadang
terdapat juga spesies pohon Hernandia peltata, Manilkara kauki, dan Sterculia
foetida. Ekosistem hutan pantai di Sulawesi Tenggara dapat ditemukan
dikawasan Suakamarga Satwa di Tanjung Batikolo, Suaka Margasatwa Tanjung
Peropa, Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai.
Upaya rehabilitasi teradap kerusakan pada hutan
pantai termasuk hutan pegunungan dapat dilakukan dengan reforestasi atau
melakukan penanaman pohon pada daerah yang telah kritis untuk mengembalikan
fungsi hutan.
2.
EKOSISTEM PERAIRAN (AKUATIK)
a)
Ekosistem sungai
Sungai adalah suatu
badan air yang mengalir ke satu arah. Air sungai dingin dan jernih serta
mengandung sedikit sedimen dan makanan. Aliran air dan gelombang secara konstan
memberikan oksigen pada air. Suhu air bervariasi sesuai dengan ketinggian dan
garis lintang.
Ekosistem sungai dihuni oleh hewan seperti ikan kucing, gurame, kura-kura,
ular, buaya,
dan .
b) Ekosistem
rawa gambut
Ekosistem
rawa gambut dapat ditemukan di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai. Ekosistem
rawa merupakan daerah depresi dan merupakan tempat bermuara sungai dari
pegunungan yang ada di sekitarnya sebelum mengalir bergabung dengan sungai
konaweha.Luas rawa aopa seluruhnya sekitar 30.000 ha, dan masuk dalam kawasan
Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai sekitar 10.000 ha.Tumbuhan yang dominan
menutupi rawa ini adalah rumput gelagah (Saccharum spp.) vegetasi lainnya
adalah teratai (Victoria spp.) berbunga merah dan putih yang sangat indah,
paku-pakuan, serta tumbuhan berkayu seperti uti (Bacchia frutescen), waru
(Planchonia valia), betao (Callophyllum soulatn) dan lain-lain.
Dalam proses pembentukkan Gambut di Rawa Aopa sama
sekali tidak berhubungan dengan unsur salinitas air laut. Whitten et al.
(1987) menyebutkan bahwa gambut Rawa Aopa termasuk gambut topogen dimana dalam
pembentukkannnya terjadi akibat kondisi kawasan yang berada di daerah depresi
yang dikelilingi oleh dataran tinggi, khususnya Gunung Makaleleo. Rawa Aopa
bertopografi datar sehingga aliran air yang terjadi memiliki arus yang lambat.
Kondisi ini menyebabkan rendahnya aerasi/kandungan oksigen dalam air yang
diperlukan dalam proses dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme. Yang
terjadi kemudian adalah penumpukkan bahan organik yang menjadi bahan dalam
proses pembentukkan tanah gambut.
c) Ekosistem estuari
Estuari (muara) merupakan
tempat bersatunya sungai dengan laut.
Salinitas air berubah secara bertahap mulai
dari daerah air tawar ke laut. Salinitas ini juga dipengaruhi oleh siklus
harian dengan pasang surut airnya. Nutrien dari sungai memperkaya daerah estuary.
Estuari sering dipagari oleh lempengan lumpur intertidal yang luas atau rawa garam. Ekosistem
estuari memiliki produktivitas yang tinggi dan kaya akan nutrisi. Komunitas
tumbuhan yang hidup di estuari antara lain rumput rawa garam, ganggang,
dan fitoplankton.
Komunitas hewannya antara lain berbagai cacing, kerang, kepiting,
dan ikan.
Bahkan ada beberapa invertebrata laut dan ikan laut yang menjadikan estuari
sebagai tempat kawin atau bermigrasi untuk menuju habitat air tawar. Estuari
juga merupakan tempat mencari makan bagi vertebrata semi air, yaitu unggas
air.
d) Ekosistem
Pantai Batu
Ekosistem
pantai batu letaknya berbatasan dengan ekosistem darat, laut, dan daerah pasang
surut. Jenis ekosistem ini terbentuk dari bongkahan-bongkahan batu granit yang
besar atau berupa batuan padas yang terbentuk dari proses konglomerasi
(berkumpul dan menyatunya) antara batu-batu kecil atau kerikil dengan tanah
liat dan kapur. Ekosistem tersebut biasanya didominasi vegetasi jenis Sargassum
atau Eucheuma. Ekosistem ini dapat kita jumpai di wilayah pesisir
berbukit yang berdinding batu, mulai dari sepanjang pantai barat Sumatra,
pantai selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sampai pantai selatan Maluku.
e) Ekosistem
Pantai Lumpur
Ekosistem
pantai lumpur terbentuk dari pertemuan antara endapan lumpur sungai dengan laut
yang berada di muara sungai dan sekitarnya. Apabila sungainya besar, lumpur
tersebut membentang luas sampai menjorok ke lautEkosistem pantai lumpur
terdapat di muara yang disebut sebagai monsun estuaria. Habitatnya berbagai
jenis biota ikan gelodok. Komunitas tumbuhannya adalah Tricemia, Skeratia,
dan rumput laut/Enhalus acoroides. Binatang-binatang ini memiliki nilai
ekonomi yang tinggi.
Lamun
atau seagrass adalah satu‑satunya kelompok tumbuh-tumbuhan berbunga yang
hidup di lingkungan laut. Tumbuh‑tumbuhan ini hidup di habitat perairan pantai
yang dangkal. Seperti halnya rumput di darat, mereka mempunyai tunas berdaun yang tegak
dan tangkai‑tangkai yang merayap yang efektif untuk berbiak. Berbeda dengan
tumbuh‑tumbuhan laut lainnya (alga dan rumput laut), lamun berbunga, berbuah
dan menghasilkan biji. Mereka juga mempunyai akar dan sistem internal untuk
mengangkut gas dan zat‑zat hara. Sebagai sumber daya hayati, lamun
banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.
Upaya rehabilitasi padang lamun secara
berkelanjutan, yakni diperlukan suatu pengelolaan yang tepat. Beberapa hal yang
dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah: (1) penyuluhan
akan pentingnya peranan ekosistem padang lamun di lingkungan pesisir, (2)
menyadarkan masyarakat agar mengambil peran yang lebih besar dalam menjaga dan
mengelola sumberdaya padang lamun, (3) pengaturan penggunaan alat tangkap yang
sudah terbukti merusak lingkungan ekosistem padang lamun seperti potasium
sianida, sabit dan gareng diganti dengan alat tangkap yang tidak merusak
lingkungan (ramah lingkungan) seperti pancing, dan (4) perlunya pembuatan
tempat penampungan limbah dan sampah organik.
Ekosistem
ini terdiri dari coral yang berada dekat pantai. Efisiensi ekosistem ini sangat
tinggi Hewan-hewan yang hidup di karang memakan organisme mikroskopis dan sisa
organik lain. Berbagai invertebrata, mikroorganisme, dan ikan, hidup di antara karang dan
ganggang. Herbivora
seperti siput, landak laut, ikan, menjadi mangsa bagi gurita, bintang laut,
dan ikan karnivora. Kehadiran terumbu karang di dekat pantai membuat pantai
memiliki pasir putih. Ekosistem ini dapat kita jumpai di
perairan jernih. Terumbu karang terbentuk sebagai hasil dari kegiatan berbagai
hewan laut seperti kerang, siput, cacing, Coelenterata dan alga kapur (Halimeda).
Syarat hidup binatang kerang, yaitu airnya jernih, arus gelombang kecil, dan
lautnya dangkal. Ekosistem ini dapat kita temukan di pantai sebelah barat
Sumatra, pantai selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, serta pantai utara Sulawesi
dan Maluku.
Rehabilitasi (pemulihan) kerusakan terumbu karang dapat dilakukan dengan melakukan
rehabilitasi aktif, seperti meningkatkan populasi karang, mengurangi alga yang
hidup bebas, serta meningkatkan ikan-ikan karang.
Peningkatan populasi karang dapat dilakukan dengan
meningkatkan rekruitmen, yaitu membiarkan benih karang yang hidup menempel pada
permukaan benda yang bersih dan halus dengan pori-pori kecil atau liang untuk
berlindung; menambah migrasi melalui tranplantasi karang, serta mengurangi
mortalitas dengan mencegahnya dari kerusakan fisik, penyakit, hama dan
kompetisi.
Pengurangan populasi alga dapat dilakukan dengan cara
membersihkan karang dari alga dan meningkatkan hewan pemangsa alga.
Populasi ikan karang dapat ditingkatkan dengan
meningkatkan rekruitmen, yaitu dengan meningkatkan ikan herbivora dan
merehabilitasi padang lamun sebagai pelindung bagi ikan-ikan kecil,
meningkatkan migrasi atau menambah stok ikan, serta menurunkan mortalitas jenis
ikan favorit.
Kedalamannya
ekosistem ini lebih dari 6.000 m. Biasanya terdapat lele laut dan ikan laut
yang dapat mengeluarkan cahaya. Sebagai produsen terdapat bakteri yang
bersimbiosis dengan karang tertentu. Pada ekosistem laut dalam, yaitu pada daerah batial dan
abisal merupakan daerah gelap sepanjang masa.
Di
daerah tersebut tidak berlangsung kegiatan fotosintesis, berarti tidak ada
produsen, sehingga yang ditemukan hanya konsumen dan dekompos saja. Ekosistem
laut dalam merupakan suatu ekosistem
yang tidak lengkap.
BIOLOGI KONSERVASI
“Jenis-Jenis Ekosistem yang
Terdapat di Sulawesi Tenggara”

KELOMPOK 5
WA ODE SUSIANTI (A1C212014)
ALJIZAT IRIANTO (A1C212034)
NURSIA (A1C212017)
SITTI FATIMAH (A1C212029)
WA ODE SUSIANTI (A1C212014)
ALJIZAT IRIANTO (A1C212034)
NURSIA (A1C212017)
SITTI FATIMAH (A1C212029)
PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2014
Jenis-Jenis
Ekosistem yang Terdapat di Sulawesi Tenggara
Ekosistem adalah suatu proses yang terbentuk
karena adanya hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya,
jadi kita tahu bahwa ada komponen biotik (hidup) dan juga komponen
abiotik(tidak hidup) yang terlibat dalam suatu ekosistem ini, kedua komponen
ini tentunya saling mempengaruhi, contohnya saja hubungan hewan dengan air. Interaksi antara makhluk hidup dan tidak hidup ini akan
membentuk suatu kesatuan dan keteraturan. Setiap komponen yang terlibat
memiliki fungsinya masing-masing, dan selama tidak ada fungsi yang terngganggu
maka keseimbangan dari ekosistem ini akan terus terjaga.
Secara
garis besar, ekosistem dibagi menjadi dua yaitu ekosistem darat (terestial) dan
ekosistem perairan (akuatik). Beberapa ekosistem yang terdapat di Sulawesi
Tenggara mulai dari pegunungan sampai di laut dalam, sebagai berikut ;
1. EKOSISTEM
DARAT (TERESTIAL)
Ekosistem darat ialah
ekosistem yang lingkungan fisiknya berupa daratan. Berdasarkan letak
geografisnya (garis lintangnya), ekosistem darat yaitu sebagai berikut :
a) Ekosistem
Hutan Pegunungan
Jenis
hutan pegunungan yang terdapat
di Sulawesi Tenggara ada dua, yaitu hutan pegunungan bawah, yaitu berada pada
ketinggian berkisar 1000–1500 m dpl. Semakin ke atas vegetasinya semakin
rendah, jika tumbuh semakin tinggi maka diameternya semakin kecil. Vegetasi
pada punggung dan lereng gunung umumnya berupa pohon pendek atau semak semak.
Vegetasinya meliputi tanaman anggrek, paku-pakuan, dan lumut. Hutan pegunungan
atas berada pada ketinggian berkisar 1500-3300 m dpl. Hutannya lebat dengan
ketinggian pohonnya mencapai 25 m, variasi vegetasinya lebih sedikit dibandingkan
dengan hutan pegunungan di bawahnya.
b)
Ekosistem Padang Rumput (savana)
Ekosistem padang rumput didominasi oleh berbagai
rumput dan jenis tumbuhan semak dan perdu. Padang rumput ini menempati
kawasan yang sangat luas dan biasanya bersinambungan dengan savanna.
Ekositem
savanna di Sulawesi Tenggara dapat ditemukan di Taman Nasional Rawa Aopa
Watumohai.Tipe ekosistem savana terletak
di belakang vegetasi mangrove dengan luas lebih kurang 30.000 h.Jenis-jenis
yang dominan pada tipe ekosistem ini adalah alang-alang (Imperata cylindrical),
totele (Cyperus rotundus), tio-tio
(Fymbristillis ferrugenea), kuralangga (Axonopus
compressus), gelagah (Saccharum
spp.),Ekosistem savana ini memiliki ciri khas dan keunikan karena merupakan
asosiasi antara padang rumput dengan tumbuhan agel (corypha utan), lontar (Borassus
flabelifer), dan bambu duri (Bambusa
spinosa) serta semak belukar dan kelompok-kelompok hutan yang tumbuh
disepanjang a;ur-alur sungai yang mengalir di padang savanna.Tipe ekosistem ini
menjadi tempat yang baik bagi satwa pemakan rumput seperti rusa (Cervus timorensis) dan anoa dataran
rendah (Anoa depressicornis).
c) Ekosistem
Mangrove
Mangrove adalah vegetasi hutan yang tumbuh dan
dipengaruhi oleh pasang surut air laut, sehingga lantainya selalu tergenang
air. Tumbuhan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri
tumbuhan yang hidup di darat dan di laut.
Upaya rehabilitasi
sebaiknya melibatkan seluruh anggota kelompok dengan menggalakan penanaman
bibit mangrove. Tiap anggota masyarakat dipercayakan untuk menyulam tiap bibit
mangrove yang kebetulan rusak atau tercabut oleh aktivitas arus dan gelombang.
Untuk mengontrol kelangsungan hidup tiap bibit dan anakan mangrove, sebaiknya
dilakukan pengontrolan setiap 3-4 hari sekali sampai pada saat bibit mangrove
yang ditanam berusia 3 – 5 bulan. Selanjutnya dilakukan pengontrolan seminggi
sekali selama 10 -12 bulan. Setelah diatas satu tahun dapat dilakukan
pengontrolan selama 1 – 2 kali sebulan.
Pemeliharaan
mangrove adalah hal penting yang perlu dilakukan untuk menjaga agar mangrove
tetap hidup dan bertahan dengan baik. Komplesitasnya kondisi fisik dan ekologis
lingkungan serta kadang adanya hama dan gangguan lain membuat mangrove kadang
mengalami kematian walaupun umur mangrove telah berusia diatas 8 – 12 bulan, namun jika
dilakukan pengontrolan yang rutin maka akan dapat meminimalisasi kegagalan yang
ada.
d) Ekosistem Hutan Pantai
Hutan pantai terdapat di daerah-daerah kering tepi
pantai dengan kondisi tanah berpasir atau berbatu dan terletak di atas garis
pasang tertinggi. Di daerah seperti itu pada umumnya jarang tergenang oleh air
laut, namun sering terjadi atau terkena angin kencang dengan embusan garam.
Spesies-spesies pohon yang pada umumnya terdapat
dalam ekosistem hutan pantai antara lain Barringtonia asiatica, Terminalia catappa, Calophyllum
inophyllum, Hibiscus tiliaceus, Casuarina equisetifolia, dan Pisonia
grandis. Selain spesies-spesies pohon tersebut, temyata kadang-kadang
terdapat juga spesies pohon Hernandia peltata, Manilkara kauki, dan Sterculia
foetida. Ekosistem hutan pantai di Sulawesi Tenggara dapat ditemukan
dikawasan Suakamarga Satwa di Tanjung Batikolo, Suaka Margasatwa Tanjung
Peropa, Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai.
Upaya rehabilitasi teradap kerusakan pada hutan
pantai termasuk hutan pegunungan dapat dilakukan dengan reforestasi atau
melakukan penanaman pohon pada daerah yang telah kritis untuk mengembalikan
fungsi hutan.
2.
EKOSISTEM PERAIRAN (AKUATIK)
a)
Ekosistem sungai
Sungai adalah suatu
badan air yang mengalir ke satu arah. Air sungai dingin dan jernih serta
mengandung sedikit sedimen dan makanan. Aliran air dan gelombang secara konstan
memberikan oksigen pada air. Suhu air bervariasi sesuai dengan ketinggian dan
garis lintang.
Ekosistem sungai dihuni oleh hewan seperti ikan kucing, gurame, kura-kura,
ular, buaya,
dan .
b) Ekosistem
rawa gambut
Ekosistem
rawa gambut dapat ditemukan di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai. Ekosistem
rawa merupakan daerah depresi dan merupakan tempat bermuara sungai dari
pegunungan yang ada di sekitarnya sebelum mengalir bergabung dengan sungai
konaweha.Luas rawa aopa seluruhnya sekitar 30.000 ha, dan masuk dalam kawasan
Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai sekitar 10.000 ha.Tumbuhan yang dominan
menutupi rawa ini adalah rumput gelagah (Saccharum spp.) vegetasi lainnya
adalah teratai (Victoria spp.) berbunga merah dan putih yang sangat indah,
paku-pakuan, serta tumbuhan berkayu seperti uti (Bacchia frutescen), waru
(Planchonia valia), betao (Callophyllum soulatn) dan lain-lain.
Dalam proses pembentukkan Gambut di Rawa Aopa sama
sekali tidak berhubungan dengan unsur salinitas air laut. Whitten et al.
(1987) menyebutkan bahwa gambut Rawa Aopa termasuk gambut topogen dimana dalam
pembentukkannnya terjadi akibat kondisi kawasan yang berada di daerah depresi
yang dikelilingi oleh dataran tinggi, khususnya Gunung Makaleleo. Rawa Aopa
bertopografi datar sehingga aliran air yang terjadi memiliki arus yang lambat.
Kondisi ini menyebabkan rendahnya aerasi/kandungan oksigen dalam air yang
diperlukan dalam proses dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme. Yang
terjadi kemudian adalah penumpukkan bahan organik yang menjadi bahan dalam
proses pembentukkan tanah gambut.
c) Ekosistem estuari
Estuari (muara) merupakan
tempat bersatunya sungai dengan laut.
Salinitas air berubah secara bertahap mulai
dari daerah air tawar ke laut. Salinitas ini juga dipengaruhi oleh siklus
harian dengan pasang surut airnya. Nutrien dari sungai memperkaya daerah estuary.
Estuari sering dipagari oleh lempengan lumpur intertidal yang luas atau rawa garam. Ekosistem
estuari memiliki produktivitas yang tinggi dan kaya akan nutrisi. Komunitas
tumbuhan yang hidup di estuari antara lain rumput rawa garam, ganggang,
dan fitoplankton.
Komunitas hewannya antara lain berbagai cacing, kerang, kepiting,
dan ikan.
Bahkan ada beberapa invertebrata laut dan ikan laut yang menjadikan estuari
sebagai tempat kawin atau bermigrasi untuk menuju habitat air tawar. Estuari
juga merupakan tempat mencari makan bagi vertebrata semi air, yaitu unggas
air.
d) Ekosistem
Pantai Batu
Ekosistem
pantai batu letaknya berbatasan dengan ekosistem darat, laut, dan daerah pasang
surut. Jenis ekosistem ini terbentuk dari bongkahan-bongkahan batu granit yang
besar atau berupa batuan padas yang terbentuk dari proses konglomerasi
(berkumpul dan menyatunya) antara batu-batu kecil atau kerikil dengan tanah
liat dan kapur. Ekosistem tersebut biasanya didominasi vegetasi jenis Sargassum
atau Eucheuma. Ekosistem ini dapat kita jumpai di wilayah pesisir
berbukit yang berdinding batu, mulai dari sepanjang pantai barat Sumatra,
pantai selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sampai pantai selatan Maluku.
e) Ekosistem
Pantai Lumpur
Ekosistem
pantai lumpur terbentuk dari pertemuan antara endapan lumpur sungai dengan laut
yang berada di muara sungai dan sekitarnya. Apabila sungainya besar, lumpur
tersebut membentang luas sampai menjorok ke lautEkosistem pantai lumpur
terdapat di muara yang disebut sebagai monsun estuaria. Habitatnya berbagai
jenis biota ikan gelodok. Komunitas tumbuhannya adalah Tricemia, Skeratia,
dan rumput laut/Enhalus acoroides. Binatang-binatang ini memiliki nilai
ekonomi yang tinggi.
Lamun
atau seagrass adalah satu‑satunya kelompok tumbuh-tumbuhan berbunga yang
hidup di lingkungan laut. Tumbuh‑tumbuhan ini hidup di habitat perairan pantai
yang dangkal. Seperti halnya rumput di darat, mereka mempunyai tunas berdaun yang tegak
dan tangkai‑tangkai yang merayap yang efektif untuk berbiak. Berbeda dengan
tumbuh‑tumbuhan laut lainnya (alga dan rumput laut), lamun berbunga, berbuah
dan menghasilkan biji. Mereka juga mempunyai akar dan sistem internal untuk
mengangkut gas dan zat‑zat hara. Sebagai sumber daya hayati, lamun
banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.
Upaya rehabilitasi padang lamun secara
berkelanjutan, yakni diperlukan suatu pengelolaan yang tepat. Beberapa hal yang
dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah: (1) penyuluhan
akan pentingnya peranan ekosistem padang lamun di lingkungan pesisir, (2)
menyadarkan masyarakat agar mengambil peran yang lebih besar dalam menjaga dan
mengelola sumberdaya padang lamun, (3) pengaturan penggunaan alat tangkap yang
sudah terbukti merusak lingkungan ekosistem padang lamun seperti potasium
sianida, sabit dan gareng diganti dengan alat tangkap yang tidak merusak
lingkungan (ramah lingkungan) seperti pancing, dan (4) perlunya pembuatan
tempat penampungan limbah dan sampah organik.
Ekosistem
ini terdiri dari coral yang berada dekat pantai. Efisiensi ekosistem ini sangat
tinggi Hewan-hewan yang hidup di karang memakan organisme mikroskopis dan sisa
organik lain. Berbagai invertebrata, mikroorganisme, dan ikan, hidup di antara karang dan
ganggang. Herbivora
seperti siput, landak laut, ikan, menjadi mangsa bagi gurita, bintang laut,
dan ikan karnivora. Kehadiran terumbu karang di dekat pantai membuat pantai
memiliki pasir putih. Ekosistem ini dapat kita jumpai di
perairan jernih. Terumbu karang terbentuk sebagai hasil dari kegiatan berbagai
hewan laut seperti kerang, siput, cacing, Coelenterata dan alga kapur (Halimeda).
Syarat hidup binatang kerang, yaitu airnya jernih, arus gelombang kecil, dan
lautnya dangkal. Ekosistem ini dapat kita temukan di pantai sebelah barat
Sumatra, pantai selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, serta pantai utara Sulawesi
dan Maluku.
Rehabilitasi (pemulihan) kerusakan terumbu karang dapat dilakukan dengan melakukan
rehabilitasi aktif, seperti meningkatkan populasi karang, mengurangi alga yang
hidup bebas, serta meningkatkan ikan-ikan karang.
Peningkatan populasi karang dapat dilakukan dengan
meningkatkan rekruitmen, yaitu membiarkan benih karang yang hidup menempel pada
permukaan benda yang bersih dan halus dengan pori-pori kecil atau liang untuk
berlindung; menambah migrasi melalui tranplantasi karang, serta mengurangi
mortalitas dengan mencegahnya dari kerusakan fisik, penyakit, hama dan
kompetisi.
Pengurangan populasi alga dapat dilakukan dengan cara
membersihkan karang dari alga dan meningkatkan hewan pemangsa alga.
Populasi ikan karang dapat ditingkatkan dengan
meningkatkan rekruitmen, yaitu dengan meningkatkan ikan herbivora dan
merehabilitasi padang lamun sebagai pelindung bagi ikan-ikan kecil,
meningkatkan migrasi atau menambah stok ikan, serta menurunkan mortalitas jenis
ikan favorit.
Kedalamannya
ekosistem ini lebih dari 6.000 m. Biasanya terdapat lele laut dan ikan laut
yang dapat mengeluarkan cahaya. Sebagai produsen terdapat bakteri yang
bersimbiosis dengan karang tertentu. Pada ekosistem laut dalam, yaitu pada daerah batial dan
abisal merupakan daerah gelap sepanjang masa.
Di
daerah tersebut tidak berlangsung kegiatan fotosintesis, berarti tidak ada
produsen, sehingga yang ditemukan hanya konsumen dan dekompos saja. Ekosistem
laut dalam merupakan suatu ekosistem
yang tidak lengkap.
Langganan:
Postingan
(Atom)