About Me

ALJIZAT IRIANTO
Lihat profil lengkapku

Followers

Senin, 22 September 2014


BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Sistem peredaran darah adalah suatu sistem organ yang berfungsi memindahkan zat ke dan dari sel. Sistem ini juga menolong stabilisasi suhu dan pH tubuh (bagian dari homeostasis). Ada tiga jenis sistem peredaran darah: tanpa sistem peredaran darah, sistem peredaran darah terbuka, dan sistem peredaran darah tertutup.
Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup(kecuali tumbuhan) tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri.
Dalam hidupnya, organisme memerlukan makanan dan oksigen untuk melangsungkan metabolisme. Proses metabolisme, selain menghasilkan zat-zat yang berguna juga menghasilkan sampah (zat sisa) yang harus dikeluarkan dari tubuh. Bahan-bahan yang diperlukan tubuh seperti makanan,oksigen, hasil metabolisme dan sisanya diangkut dan diedarkan didalama tubuh melalui sistem peredaran darah. Hasil pencernaan makanan dan oksigen diangkut dan diedarkan oleh darah keseluruh jaringan tubuh, sementara sisa-sisa metabolisme diangkut oleh darah dari seluruh jaringan tubuh menuju organ-organ pembuangan.
2.      Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang ada pada makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud dengan sistem sirkulasi?
2.      Sebutkan jenis-jenis sistem sirkulasi?
3.      Bagaimanakah fisiologi sistem sirkulasi?
4.      Apa yang dimaksud dengan homeostatis, osmoregulasi dan termoregulasi?
5.      Bagaimana Kaitan Antara Sistem Sirkulasi, Osmoregulasi Dan Termoregulasi
3.      Tujuan dan Manfaat
Tujuan penyusunan makalah ini adalah:
1.      Mengetahui pengertian sistem sirkulasi.
2.      Menjelaskan jenis-jenis sistem sirkulasi
3.      Menjelaskan fisiologi sistem sirkulasi pada hewan
4.      Mengetahui pengertian homeostatis, osmoregulasi dan termoregulasi.
5.      Menjelaskan Kaitan Antara Sistem Sirkulasi, Osmoregulasi Dan Termoregulasi
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Sistem Sirkulasi
Dalam hidupnya, organisme memerlukan makanan dan oksigen untuk melangsungkan metabolisme. Proses metabolisme, selain menghasilkan zat-zat yang berguna juga menghasilkan sampah (zat sisa) yang harus dikeluarkan dari tubuh. Bahan-bahan yang diperlukan tubuh seperti makanan,oksigen, hasil metabolisme dan sisanya diangkut dan diedarkan didalam tubuh melalui sistem sirkulasi. Hasil pencernaan makanan dan oksigen diangkut dan diedarkan oleh darah keseluruh jaringan tubuh, sementara sisa-sisa metabolisme diangkut oleh darah dari seluruh jaringan tubuh menuju organ-organ pembuangan.
Sistem sirkulasi adalah suatu sistem organ yang berfungsi memindahkan zat ke dan dari sel. Sistem ini juga menolong stabilisasi suhu dan pH tubuh (bagian dari homeostasis). Sistem sirkulasi dibagi dalam dua bagian besar yaitu sistem kardiovaskular (peredaran darah) dan sistem limfatik. Sistem kardiovaskular terdiri atas jantung, yang memompa dan mempertahankan aliran darah, arteri yang mengangkut darah pergi dari jantung, arteriol, pembuluh kecil yang menuju ke pembuluh yang lebih kecil lagi yaitu kapiler, venula, pembuluh halus yang menampung isi kapiler. Sistem sirkulasi dikenal pula dengan istilah sistem vaskular memiliki beberapa fungsi diantaranya adalah:
1.      Transportasi nutrisi
2.      Transportasi limbah dan hasil metabolisme
3.      Transpotasi O2 dan CO2
4.      Transportasi hormone
5.      Homeostasis, Osmoregulator danThermoregulator
6.      Sistem perlindungan
B.     Jenis-Jenis Sistem Sirkulasi
Sistem sirkulasi pada hewan dibedakan menjadi 3 yaitu;
1.   Sistem Difusi
Terjadi pada invertebrata rendah yang mana hewan-hewan ini belum mempunyai sistem sirkulasi berupa jantung dengan salurannya yang merupakan jalan untuk peredaran makanan. Makanan umumnya beredar keseluruh tubuh karena adanya aliran protoplasma. Makhluk hidup harus mampu mengangkut nutrisi, limbah dan gas ke dan dari sel. Organisme bersel tunggal seperti paramecium, amoeba maupun hydra menggunakan permukaan sel mereka sebagai titik pertukaran dengan lingkungan luar. organisme multiselular telah mengembangkan transportasi dan sistem peredaran darah untuk memberikan oksigen dan makanan ke sel dan membuang karbon dioksida dan limbah metabolik. Spons adalah binatang yang paling sederhana, namun bahkan mereka memiliki sistem transportasi. Air laut adalah sarana transportasi dan didorong masuk dan keluar dari spons dengan tindakan silia.
2.   Sistem sirkulasi terbuka
Pada sistem sirkulasi darah terbuka, darah dan cairan lainnya tidak selamanya diedarkan melalui pembuluh darah. Namun, pada saat tertentu darah meninggalkan pembuluh darah dan langsung beredar di dalam rongga-rongga tubuh dan akhirnya kembali lagi ke dalam pembuluh. Pada sistem peredaran darah terbuka, seperti pada  moluska dan artropoda. sistem peredaran darah terbuka  memompa darah ke dalam hemocoel dengan darah menyebar kembali ke sistem peredaran darah antara sel-sel. Darah dipompa oleh jantung ke dalam rongga tubuh, di mana jaringan dikelilingi oleh darah.
Sistem sirkulasi darah terbuka terdiri dari jantung, sejumlah sinus (rongga), dan sejumlah arteri. Jantung berotot tebal, berbentuk sadel atau tabung yang terbungkus oleh perikardium. Arteri merupakan saluran yang berasal dari jantung dan mempunyai valve (katub-katub). Valve ini untuk mencegah darah masuk kembali ke jantung.
a.       Sirkulasi pada mollusca
Alat sirkulasi darah siput terdiri atas jantung dan pembuluh darah yang masih sederhana. Jantung siput terdiri atas atrium dan ventrikel, terletak di dalam rongga perikardial. Jalan sirkulasi darah pada siput diawali dengan darah dipompa dari jantung mengalir melalui sinus menuju jaringan tubuh. Dari jaringan tubuh, darah kembali lagi ke jantung.
b.      Sirkulasi pada arthropoda air (udang)
Mula-mula darah dipompa dari jantung melalui pembuluh darah menuju bagian bawah tubuh, seperti bagian kaki. Darah dari bagian kaki mengalir menuju insang bagian kiri dan kanan tanpa melalui pembuluh. Di insang, darah mengikat O2 dan kemudian kembali ke jantung.
c.       Sirkulasi pada insekta (serangga)
Serangga memiliki alat sirkulasi darah terbuka yang terdiri atas jantung yang beruas-ruas dan aorta. Serangga tidak memiliki pembuluh kapiler dan vena. Darah serangga tidak berwarna karena tidak mengandung hemoglobin, tetapi mengandung hemosianin. Darah serangga hanya digunakan untuk mengangkut sari makanan dari usus ke seluruh tubuh. Darah serangga tidak digunakan untuk pengangkutan gas O2 maupun CO2 Pengangkutan gas O2 dan CO2 dilakukan oleh sistem trakea.
3.   Sistem sirkulasi tertutup
Pada sistem sirkulasi darah tertutup apabila  darah beredar selalu berada  di dalam pembuluh. Pada sistem sirkulasi darah tertutup, darah mengalir ke seluruh jaringan tubuh melalui pembuluh. misalnya terdapat pada Annelida dan Vertebrata.
Jantung memompa darah ke seluruh jaringan tubuh melalui pembuluh dan kembali ke jantung juga melalui pembuluh. Alat-alat yang menyusun sistem sirkulasi darah tertutup sudah lengkap, yaitu terdiri atas jantung sebagai alat pemompa darah, pembuluh aorta, pembuluh arteri, pembuluh vena, pembuluh kapiler, plasma, dan sel darah, serta jaringan tubuh yang dialirinya. Berikut ini dijelaskan beberapa hewan yang memiliki system sirkulasi darah tertutup.
a.    Sirkulasi Pada Cacing
Cacing memiliki sistem peredaran darah tertutup, yang terdiri dari pembuluh darah dorsal, pembuluh darah ventral dan lima pasang lengkung aorta yang berfungsi sebagai jantung, misal pada cacing tanah (Pheretima). Arah aliran darah: Lengkung aorta  pembuluh ventral, kapiler (seluruh jaringa tubuh), pembuluh dorsal, lengkung aorta (pembuluh jantung). Oksigen diabsorbsi melalui kulit dan dibawa pembuluh kapiler menuju ke pembuluh dorsal. Pertukaran darah terjadi pada kapiler. Darah cacing tanah mengandung hemoglobin yang terlarut dalam cairan darahnya.
Sistem sirkulasi pada cacing tanah terdiri atas lima pasang jantung pembuluh atau jantung semu yang terletak pada segmen tubuh VII hingga XI. Lima pembuluh darah sejajar dengan panjang tubuh. Pada setiap segmen tubuh terdapat sepasang pembuluh penghubung, pembuluh darah dorsal (punggung), pembuluh ventral (perut), serta anyaman pembuluh kapiler. Jantung pembuluh terdiri dari pembuluhpembuluh yang berukuran besar, yaitu pembuluh dorsal dan ventral yang mampu berkontraksi.

b.    Sirkulasi pada pisces (ikan)
Alat sirkulasi darah ikan terdiri atas jantung dan sinus venosus. Jantung terdiri atas dua ruangan yaitu atrium dan ventrikel. Jantung terletak di belakang insang, yaitu di dalam Proses sirkulasi darah bermula dari darah yang kaya CO2 dari seluruh tubuh kembali ke jantung melalui vena dan berkumpul di sinus venosus kemudian masuk ke atrium, dilanjutkan ke ventrikel dan dipompa menuju insang melewati konus arteriosus. Di insang oksigen diikat dan CO2 dilepaskan, kemudian masuk ke aorta dorsalis dan diedarkan ke seluruh tubuh, lalu kembali ke jantung melalui vena. Sirkulasi darah ikan disebut sirkulasi darah tunggal karena darah beredar hanya sekali melalui jantung, yaitu dari jantung menuju ke insang dan ke seluruh tubuh dan kembali ke jantung.
c.    Sirkulasi pada amphibi (katak)
Alat sirkulasi darah katak terdiri atas jantung, arteri, vena, kapiler, dan sinus venosus. Jantung terdiri dari 3 ruangan yaitu atrium kiri, atrium kanan, dan satu ventrikel. Di antara atrium dan ventrikel terdapat sekat. Antara atrium kanan dan kiri terdapat katup. Sinus venosus terletak di sebelah dorsal jantung. Darah ini mula-mula berkumpul di sinus venosus dan akan masuk ke atrium kanan, dan menuju ventrikel, lalu dipompa menuju paru-paru. Selanjutnya, darah dari paru-paru yang kaya O2 masuk ke atrium kiri dan menuju ventrikel. Selain dari paru-paru, O2 juga dapat diperoleh melalui kapiler-kapiler di bawah kulit. O2 ini masuk ke dalam kulit secara difusi. Jadi, di dalam ventrikel kedua jenis darah bercampur. Selanjutnya, darah kaya O2 dari ventrikel dipompa menuju arteri untuk diedarkan ke seluruh jaringan tubuh. Kulit amfibi juga berperan sebagai alat pernapasan. Oksigen masuk melalui kulit secara difusi, ke kapiler-kapiler di bawah kulit.
d.   Sirkulasi pada aves dan mamalia
Alat sirkulasi darah berupa jantung yang terdiri dari 4 ruang dengan sekat sempurna, arteri dan vena. Sistem sirkulasi darah Aves sama dengan sirkulasi darah pada mamalia. Pada semua mamalia dan aves, ventrikel terbagi dua sepenuhnya sehingga terdapat dua atrium dan dua ventrikel.
Jantung beruang empat yang kuat merupakan adaptasi kunci yang menyokong cara hidup endotermik yang khas pada mamalia dan aves. endoterm menggunakan sekitar sepuluh kali lebih banyak energy daripada ektoterm yang berukuran setara, sehingga system sirkulasinya harus mengantarkan sekitar sepuluh kali lebih banyak bahan bakar dan O2 ke jaringan-jaringannya. Lalu lintas yang zat-zat yang  tinggi ini dimungkinkan oleh sirkuit sistemik dan pulmoner yang terpisah dan ditenagai secara independen dan oleh jantung besar yang memompa darah dengan volume yang dibutuhkan.
Sirkulasi pada mamalia dimulai dengan kontraksi ventrikel kanan memompa darah ke paru-paru melalui arteri pulmoner. Saat mengalir melalui bantalan kapiler dalam paru-paru kiri dan kanan, darah mengambil O2 dan melepaskan CO2. Darah kaya oksigen kembali dari paru-paru melalui vena pulmoner ke atrium kiri jantung. Selanjutnya, darah kaya oksigen mengalir ke dalam ventrikel kiri, yang memompa darah keluar ke jaringan-jaringan tubuh melalui sirkuit sistemik. Darah meninggalkan ventrikel kiri melalui aorta yang mengantarkan darah ke arteri-arteri yang menuju ke seluruh tubuh. Cabang-cabang pertama dari aorta adalah arteri koroner. Aorta kemudian turun kedalam abdomen, menyuplai darah kaya oksigen ke arteri-arteri yang menuju bantalan kapiler dalam  organ-organ abdominal dan kaki. Di dalam kapiler, terjadi difusi neto O2 dari darah ke jaringan-jaringan dan CO2 yang dihasilkan oleh respirasi selular ke dalam darah. Kapiler-kapiler bergabung kembali membentuk venula-venula yang mengantarkan darah ke vena. Darah miskin oksigen  dari kepala, leher, dan tungkai depan disalurkan ke dalam suatu vena besar, vena kava superior. Kedua vena kava mengosongkan darahnya ke dalam atrium kanan, tempat darah miskin oksigen mengalir ke dalam ventrikel kanan.
C.    Fisiologi Sistem Sirkulasi
Pengantaran  O2 dari paru-paru atau insang ke jaringan-jaringan di seluruh tubuh vertebrata dan sebaliknya pula pengantaran CO2 dari jaringan ke paru-paru atau insang diperankan oleh  hemoglobin (Hb) yang berada dalam sel darah merah (eritrosit). Pengantaran tersebut dalam bentuk pengikatan O2 dengan Hb  membentuk oksihemoglobin dan pengikatan CO2 dengan Hb membentuk Karbominohemoglobin. Pada bagian paru-paru ataun insang Hb akan melepaskan CO2 dan mengikat O2, sebaliknya pada jaringan Hb akan melepas O2 dan mengikat CO2
Warna merah dari eritrosit berasal dari gugus heme yang terdapat pada hemoglobin. Sedangkan cairan plasma darah sendiri berwarna kuning kecoklatan, eritrosit akan berwarna merah terang ketika mengikat oksigen dan ketika  dilepas maka warna erirosit akan berwarna lebih gelap dan akan menimbulkan warna kebiru-biruan pada pembuluh darah dan kulit.
D.    Homeostatis
Homeostasis berasal dari bahasa yunani  yaitu, homeo yang berati sama dan stasis yang berati mempertahankan keadaan.  Homeostasis kemudian sering diartikan  sebagai semua proses yang terjadi dalam organisme hidup untuk mempertahankan lingkungan internal, dalam kondisi tertentu agar  tecipata kondisi yang optimal bagi kehidupan organisme yang bersangkutan. Hemeostasis merupakan mekanisme pengaturan lingkungan kesetimbangan yang dinamis di dalam tubuh hewan yang konstan. Dalam homeostasis keadaan konstan terdapat dua jenis, yaitu yang pertama adalah system tertutup yang dimaksud dengan system tertutup adalah sebuah keseimbangan statis, yang dimana keadaan dalam tubuh tidak berubah. Sedangkan yang kedua adalah system terbuka, yang dimaksud dengan system terbuka adalah kesetimbangan dinamis, yaitu keadaan dalam tubuh yang konstan, sedangkan system terus berubah.
Homeostasis memiliki  fungsi yang sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup, antara lain:
1.      Menstabilkan cairan disekitar sel-sel oranisme multi sel atau cairan extrasel (CES) (Siagian, 2008).
2.      Untuk kelangsungan hidup sel
3.      Memungkinkan organisme beradaptasi pada lingkungan luar yang mempunyai jumlah dan habitat yang lebih luas.
4.      Menyediakan keadaan dalam (lingkungan dinamis dalam badan organisme) yang stabil supaya sel-sel dapat menjalankan hidup dengan efisien.
5.      Memungkinkan kadar metabolisme diatur secara efisien pada saat tertentu.
6.      Dan yang terakhir Memungkinkan enzim-enzim menjalankan fungsinya dengan optimum
Mekanisme pengendalian kondisi homeostasis pada hewan berlangsung melalui system system umpan balik. Akan tetapi, kita tidak boleh lupa bahwa ada 2 macam system umpan balik, yaitu umpan balik positif dan negative. Sistem umpan balik yang berfungsi dalam pengendalian kondisi homeostasis pada tubuh hewan adalah system umpan balik negative.


a.  Umpan balik negatif (negative feedback)
Sebagai gambaran tentang umpan balik negatif adalah dengan mengamati bekerjanya thermostat yang dipasang dalam akuarium untuk menjaga agar suhu air dalam akuarium tersebut berada pada suhu yang diinginkan. Bilamana suhu air medium lebih rendah dari suhu yang diinginkan, sensor memberikan informasi agar pemanas memanaskan medium. Jadi pengaturan suhu tubuh membutuhkan “thermostat” yang informasinya harus diberikan pada sistem pengendali suhu. Jika informasi yang sampai pada sistem pengendali suhu adalah bahwa suhu tubuh lebih rendah dari yang semestinya, maka sistem pengendali akan meningkatkan suhu tubuh sampai kondisi semestinya dan pemanasan berhenti sampai terjadinya penurunan suhu lebih rendah dari yang semestinya.
Pada mamalia yang senantiasa mempertahankan suhu tubuh konstan, meningkatnya suhu tubuh menghasilkan respon yang mengembalikan suhu tubuh sebagaimana kondisi yang semestinya. Jadi, umpan balik negatif mengarahkan pada stabilitas sistem fisiologis. Hal ini merupakan kebalikan dari sistem umpan balik positif dimana perubahan awal suatu variable menghasilkan perubahan lebih lanjut.
Sebagai contoh, peristiwa yang terjadi pada burung dan mamalia pada  waktu mempertahankan suhu tubuhnya supaya tetap konstan. Peningkatan suhu tubuh sebesar 0,5o C akan mendorong timbulnya tanggapan yang akan mengembalikan suhu tubuh ke suhu awal, yaitu suhu seharusnya. Pada mamalia, suhu seharusnya adalah 37o C dengan demikian, system umpan balik negative pada contoh di atas akan selalu membawa system fisiologis kepada suhu tubuh 37o C.
b. Umpan Balik Positif (Positive Feedback)
Peristiwa yang terjadi pada system umpan balik positif berlawan dengan peristiwa yang terjadi pada system umpan balik negative. Pada system umpan balik positif, perubahan aawal suatu variable akan menghasilkan perubahan yang semakin besar, misalnya proses pembekuan darah. proses pembekuan darah sebenarnya bekerja melalui mekanisme system umpan balik positif, yang bertujuan untuk menghentikan pendarahan. Namun, hasil dari proses tersebut selanjutnya bermakna sangat penting untuk memepertahankan volume darah yang bersirkulasi agar tetap konstan.
Mekanisme umpan balik posistif tidak terlibat dalam proses menjaga kondisi homeostasis, tetapi terlibat dalam penyelenggaraan fungsi fisiologis tertentu  (proses pembekuan darah dan fungsi sel saraf.) Mekanisme umpan balik positif dalam mengendalikan fungsi fisiologis pada hewan dapat berbahaya.Misalnya, suhu tubuh mamalia meningkat, jika gangguan awal ini kemudian mengalami umpan balik positif maka hasilnya adalah peningkatan suhu tubuh lebih lanjut yang tentunya berbahaya bagi hewan tersebut. Contoh lain umpan balik positif adalah pada fungsi saraf.  Jika terdapat rangsang pada sel syaraf akan menyebabkan perubahan permeabilitas selaput yang memungkinkan adanya aliran ion sodium (Na+) masuk kedalam neuron. Aliran masuk ion Na+ pada fase awal terjadinya potensial aksi menghasilkan respon depolarisasi yang menyebabkan aliran masuk ion Na+ lebih lanjut.
E.     Osmoregulasi dan Termoregulasi
Osmoregulasi merupakan mekanisme managemen cairan dengan tujuan menyeimbangkan pemasukan dan pengeluaran cairan tubuh oleh sel atau organisme.  Mekanisme ini diperlukan karena adanya perbedaan konsentrasi cairan tubuh dengan lingkungan disekitarnya. Jika sebuah sel menerima terlalu banyak air maka ia akan meletus, begitu pula sebaliknya, jika terlalu sedikit air, maka sel akan mengerut dan mati. Osmoregulasi juga berfungsi ganda sebagai sarana untuk membuang zat-zat yang tidak diperlukan oleh sel atau organisme hidup serta mengatur suhu tubuh (thermorgulasi).
Kebanyakan invertebrata yang berhabitat di laut tidak secara aktif mengatur sistem osmosis mereka, dan dikenal sebagai osmoconformer. Osmoconformer memiliki osmolaritas internal yang sama dengan lingkungannya sehingga tidak ada tendensi untuk memperoleh atau kehilangan air. Karena kebanyakan osmoconformer hidup di lingkungan yang memiliki komposisi kimia yang sangat stabil (di laut) maka osmoconformer memiliki osmolaritas yang cendrung konstan.
            Osmoregulasi penting dalam lingkungan bercairan yang mengelilingi sel, jaringan  dan organ. Agar system fisiologis berfungsi dengan benar, konsentrasi relative air dan zat terlarut harus tetap dijaga dalam batas-batas yang relative sempit. selain itu, ion-ion seperti natrium dan kalsium harus dipertahankan dalam konsentrasi yang memungkinkan aktifitas otot, neuron, dan sel-sel tubuh lain secara normal.
Sebagian besar vertebrata vertebrata laut dan beberapa invertebrate laut merupakan osmoregulator. Bagi sebagian hewan ini, laut adalah lingkungan yang sangat mendehidrasi. Misalnya ikan laut bertulang keras, menyeimbangkan kehilangan air dengan meminum banyak sekali air laut. mereka kemudian memanfaatkan insang dan ginjalnya untuk membuang garam. di dalam insang, sel kloridayang terspesialisasi secara aktif mentranspor ion klorida(CL-) keluar san ion natrium (NA+) mengikuti secara pasif. Di dalam ginjal, kelebihan ion kalsium, magnesium, dan sulfat diekskresikan bersama dengan kehilangan sejumlah kecil air.
sebuah system osmoregulasi yang berbeda dievolusikan pada hiu dan sebagian hewan kondriktia. Ikan hiu, memiliki konsentrasi garam internalyang jauh lebih kecil daripada air laut, sehingga garam cenderung berdifusi kedalam tubuh dari air, terutama melintasi insang. Akan tetapi tidak seperti hewan bertulang keras, ikan hiu tidak hipoosmotik terhadap air laut.
Osmoregulasi hewan air tawar berlawanan dengan hewan air laut. Cairan tubuh hewan perairan tawar harus hiperosmotik karena sel tidak dapat mentoleransi konsentrasi garam serendah konsentrasi air danau atau air sungai. Karena memiliki cairan internal dengan osmolaritas yang lebih tinggi daripada disekitarnya, hewan perairan tawar menghadapi masalah penambahan air melalui osmosis dan kehilangan garam melalui difusi.
Termoregulasi adalah proses yang melibatkan mekanisme homeostatik yang mempertahankan suhu tubuh dalam kisaran normal, yang dicapai dengan mempertahankan keseimbangan antara panas yang dihasilkan dalam tubuh dan panas yang dikeluarkan. Sistem termoregulasi dikendalikan oleh hipotalamus di otak, yang berfungsi sebagai termostat tubuh. Hipotalamus sebagai pusat integrasi termoregulasi tubuh, menerima informasi aferen mengenai suhu di berbagai bagian tubuh dan memulai penyesuaian- penyesuaian terkoordinasi yang sangat rumit dalam mekanisme penambahan atau pengurangan panas sesuai dengan keperluan untuk mengkoreksi setiap penyimpangan suhu inti dari patokan normal.
Hipotalamus mampu berespon terhadap perubahan suhu darah sekecil 0,01 0C. Tingkat respons hipotalamus terhadap penyimapangan suhu tubuh disesuaikan dengan cara yang sangat cermat, sehingga panas yang dihasilkan atau dikeluarkan sangat sesuai dengan kebutuhan untuk memulihkan suhu ke normal (Sloane, 2003). • Termoreseptor perifer, terletak di dalam kulit, memantau suhu kulit di seluruh tubuh dan menyalurkan informasi mengenai perubahan suhu permukaan ke hipotalamus. • Termoreseptor sentral, terletak diantara hipotalamus anterior, medulla spinalis, organ abdomen dan struktur internal lainnya juga untuk mendeteksi perubahan suhu darah. Pusat termoregulasi menerima masukan dari termoreseptor di hipotalamus itu sendiri yang berfungsi menjaga temperatur ketika darah melewati otak (temperatur inti) dan reseptor di kulit yang menjaga temperatur eksternal. Keduanya diperluka oleh tubuh untuk melakukan penyesuaian. Dalam individu yang sehat, suhu inti tubuh diatur oleh mekanisme kontrol umpan balik yang menjaga hampir konstan sekita 98,60 F (370 C) sepanjang hari, minggu, bulan atau tahun (Sherwood, 2001). Dalam hipotalamus terdapat dua pusat pengaturan suhu, yaitu: (Sherwood, 2011) • Regio posterior yang diaktifkan oleh suhu dingin dan kemudian memicu refleks-refleks yang memperantarai produksi panas dan konveksi panas. • Regio anterior yang diaktifkan oleh rasa hangat, memicu refleks-refleks yang memperantarai pengurangan panas.
Sensor dalam sistem termoregulasi adalah hipotalamus dan reseptor kulit (reseptor perifer). Sedangkan efektor adalah kelenjar keringat, dan kapiler kulit. Efektor ini memiliki tiga mekanisme yang terlibat dalam termoregulasi. Pertama, sistem vasomotor, yang terdiri dari saraf yang bekerja pada otot polos pembuluh darah untuk mengontrol diameter pembuluh darah. Kedua, disediakan oleh efektor metabolik, yaitu substansi yang diproduksi oleh tubuh untuk meningkatkan aktivitasnya. Ketiga, disediakan oleh kelenjar keringat. Sistem vasomotor bertanggung jawab untuk dua respon fisiologis yang disebut dengan vasodilatasi dan vasokonstriksi.
Sistem termoregulasi berfungsi untuk menjaga keseimbangan energi panas yang masuk dan energi panas yang terbuang sehingga mencapai temperatur yang mendekati konstan. Fungsi utama sistem termoregulasi yaitu berperan penting dalam homeostasis, dimana homeostasis merupakan upaya penyesuaiasn neuroendokrin dalam mempertahankan kestabilan fisiologi.
 Sistem termoregulasi Hipotalamus mendeteksi perubahan kecil pada suhu tubuh. Jika sel saraf di hipotalamus anterior menjadi panas di luar batas titik pengaturan (set point) maka impuls dikirimkan untuk menurunkan suhu tubuh. Mekanisme kehilangan panas adalah dengan berkeringat, vasodilatasi (pelebaran) pembuluh darah, dan hambatan produksi panas. Tubuh akan mendistribusikan darah ke pembuluh darah permukaan untuk menghilangkan panas. Semakin banyak darah dari bagian tengah tubuh yang mencapai kulit, semakin dekat suhu kulit dengan suhu inti. Pembuluh darah kulit melenyapkan efektivitas kulit sebagai isolator dengan mengangkut panas ke permukaan, tempat panas tersebut dapat dikeluarkandari tubuh melalui radiasi, konduksi dan konveksi. Dengan demikian vasodilatasi pepmbuluh darah kulit, yang menyebabkan peningkatan aliran darah ke kulit, meningkatkan pengurangan panas atau, apabila suhu lingkungan lebih tinggi daripada suhu inti, mengurangi pertambahan panas.
Semua respons tubuh tersebut berfungsi agar suhu inti tubuh tetap stabil. Oleh karena itu penambahan panas harus seimbang dengan pengeluaran panas, karena panas ini amatlah penting untuk mempertahan suhu inti. Mekanisme keseimbangan suhu tubuh secara singkat ialah jika suhu inti mulai turun, produksi panas ditingkatkan dan kehilangan panas diminimalkan, sehingga suhu tubuh normal dapat dipulihkan. Sebaliknya, jika suhu inti tubuh mulai meningkat diatas normal, hal tersebut dapat dikoreksi dengan meningkatkan pengurangan panas, sementara produksi panas juga dikurangi.

F.     Kaitan Antara Sistem Sirkulasi, Osmoregulasi Dan Termoregulasi
Terdapat 2 kaidah pengaturan suhu tubuh yaitu: kaidah fisika dan kaidah metabolisme.
1.     Pengaturan suhu dengan kaidah fisik banyak melibatkan penggunaan otot-otot tubuh. Ada dua kemungkinan perubahan suhu tubuh yang bisa terjadi ialah: suhu tubuh tinggi melebihi normal atau suhu rendah melebihi normal.
2.     Apabila suhu tubuh tinggi, termoreseptor akan mentransfer suhu pada kulit. Hipotalamus di otak akan berfungsi sebagai termostat untuk mengatur suhu darah yang melaluinya, mekanisme koreksi akan diarahkan atau dirangsang oleh hipotalamus dengan menggunakan koordinasi tubuh. Mekanisme koreksi apabila suhu badan tinggi ialah (1) Vasodilasi yaitu pembuluh darah mengembang untuk berdekatan dengan kulit (lingkungan luar) yang memungkinkan panas dibebaskan keluar. (2)  Banyaknya darah pada kulit (kulit kelihatan merah) memudahkan panas darah terbebas keluar melalui proses penyinaran. (3) Berpeluh, air keringat yang dirembes oleh kelenjar keringat membawa panas yang tinggi dan melepaskan panas ke lingkungan.
3.     Mekanisme koreksi apabila suhu badan rendah ialah (1) Vasokonstriksi yaitu pembuluh darah menyempit untuk menjauhi kulit agar panas tak banyak keluar ke lingkungan sekitar. (2) Kurang darah pada kulit (kulit kelihatan pucat) memungkinkan untuk mencegah panas terbebas keluar lingkungan. (3) Kurangnya keringat - Saat kurang air keringat dirembeskan oleh kelenjar peluh maka panas tak banyak dibebaskan.
4.     Pengaturan suhu dengan kaidah metabolik, pengaturan lebih kepada aktivitas metabolisme daripada secara fisik walaupun tetap terdapat pengaturan yang melibatkan otot-otot. Pengaturan  ini melibat peranan: Otot rangka, Kelenjar adrenal dan  Kelenjar tiroid.
5.     Dalam keadaan dingin, hipotalamus akan mengatur otot rangka untuk vasokonstriksi secara aktif. Hal ini akan menyebabkan seseorang mengigil dan meningkatkan suhu badan. Pada saat yang sama, kelenjar adrenal akan mensekresikan hormon adrenalin dan noradrenalin sedangkan kelenjar tiroid akan mensekresikan hormon tiroksin, semua hormon ini bertujuan untuk meningkatkan suhu badan dengan cara meningkatkan metabolisme tubuh. Dalam keadaan panas, aktivitas otot rangka akan berkurang, begitu juga dengan sekresi hormon-hormon tertentu oleh kelenjar adrenal dan kelenjar tiroid akan berkurang.


BAB III
PENUTUP

1.      Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas dapat disumpulkan sebagai berikut:
a)      Sistem sirkulasi adalah suatu sistem organ yang berfungsi memindahkan zat ke dan dari sel. Sistem ini juga menolong stabilisasi suhu dan pH tubuh (bagian dari homeostasis).
b)      Sistem sirkulasi pada hewan dibedakan menjadi tiga yaitu: system difusi, system sirkulasi terbuka dan siste sirkulasi tertutup.
c)      Osmoregulasi merupakan mekanisme managemen cairan dengan tujuan menyeimbangkan pemasukan dan pengeluaran cairan tubuh oleh sel atau organisme. Termoregulasi adalah proses yang melibatkan mekanisme homeostatik yang mempertahankan suhu tubuh dalam kisaran normal, yang dicapai dengan mempertahankan keseimbangan antara panas yang dihasilkan dalam tubuh dan panas yang dikeluarkan.
2.      Saran
Semoga makalah ini dapat digunakan sebagai referensi dan salah satu acuan dalam pembelajaran.


DAFTAR PUSTAKA
Campbell, Neil A. dkk. 2008. Biologi Edisi ke Delapan Jilid 3. Erlangga: Jakarta.
Wulangi, Kartolo S. 1994. Prinsip-Prinsip Fisiologi Hewan. Depdikbud: Jakarta.

0 komentar:

Posting Komentar